Pada Suatu Pagi Bersama Bu Rantin




Bu Rantin. Nenekku. Perempuan gagah perkasa dengan segala pengalaman pahit manitnya hidup yang telah beliau hadapi. Perempuan terhebat nomor satu yang melahirkan Ibuku. Hari ini, secara tiba tiba. Tidak sengaja setelah melihat video dari Youtube tentang erupsi Merapi tahun 2010, entah mengapa tiba tiba teringat beliau. Sebenarnya tak ada hubungan antara erupsi dengan beliau. Karena, dalam sepanjang sejarah kehidupan beliau hanya dihabiskan di Jawa dan Sumatera. Mengapa Sumatera? Cerita yang amat sangat panjang.

Pada suatu pagi, ketika beliau masih bernyawa. Kebiasaan yang tak pernah terhindarkan di rumah adalah ngopi dan sarapan berdua. Kami hidup serumah, saya bersama dua kakak keponakan hidup berempat seatap.  Dengan dua kakak keponakan yang ditinggal orang tuanya masing masing merantau ke Kota. Mungkin benar kata pepatah Jawa, “jalaran soko kulino”. Saya yang sejak balita sering ditinggal Bapak dan Ibu bekerja memang sengaja diasuh oleh beliau. Berbekal susu kaleng lengkap dengan dot, kata beliau dulu. Saya yang nakal dan hyperactive seperti yang beliau tuturkan agak merepotkan seorang nenek yang waktu itu mengasuh dua balita sekaligus. Dengan kakak pertama yang hampir tumbuh dewasa.

Hari demi hari, waktu berjalan tak terhindarkan. Kami, tumbuh menjadi anak-anak usia sekolah. Masih sangat teringat waktu itu, ketika masuk taman kanak-kanak. Rasa ketakutan yang luar biasa, saya meronta tak ingin sekolah. Rasanya belum bisa jauh jauh dari beliau. Entah mengapa. Ya walau pada akhirnya Bapak berhasil meyakinkan bahwa anak yang cerdas tidak hanya tinggal dirumah dengan neneknya, tidak hanya makan disuap dan dicium kening sebelum tidur. Betapa berharganya waktu di masa kecil. Ketika masalah terberat hanya tak ingin jauh dari dekapan seorang nenek.

Kembali ke video erupsi Merapi memalui kanal Youtube. Pada suatu pagi. Dengan kesibukan seperti biasa. Kami menghabiskan pagi berdua dan memutuskan memasak. Katanya, mumpung cucunya dirumah. Ya mungkin karena saya dan kakak pertama sudah jarang dirumah. Melanjutkan kehidupan dan memutuskan merantau ke Ibu Kota.  Masih sangat ingat, beliau mengatakan.

“Hari ini kamu yang goreng ikan, Emak tinggal duduk. Punggungku sedang sakit, biar kamu yang masak?”. 

“Le, hapemu makin hari makin bagus. Bisa buat nonton tv? Katanya.

Saya hanya menjawab, “Nggak bisa, Mak. Kalau buat nonton video bisa.”

“Coba emak pengen lihat videomu.”

“Le, fotomu kok naik naik gunung semua, ini gunung apa?”

“Merapi, Mak. Tempatnya Mbah Maridjan yang dulu pernah erupsi.” Saya terengah-engah menjawab pertanyaan beliau sambil menggoreng ikan.

“Coba Emak puterin videonya Mbah Maridjan”




"Foto Bu Rantin Ketika Sehat"

Beliau asik sekali menonton video sampai lupa bahwa ikan yang saya goreng hampir gosong dan akhirnya beliau sendiri yang mencium bau tengik pada ikan. Beliau marah sebentar dan menyuruh saya untuk mentiriskan masakan tersebut lalu membuat adonan sambal korek khas pedesaan.
...
“Dan entah mengapa, momen ini tak terlupakan sampai hari ini. Bahwa segalanya yang sederhana justru membekas. Momen momen kecil semacam ini justru kadang sangat dirindukan. Terlebih, beliau kini yang sudah meninggalkan kami semua para cucunya. Entah, budi apa yang sanggup terbalaskan kecuali doa. Uang kini tak berguna untuknya. Kasih sayang tanpa meminta balas. Ketulusan yang tak terucapkan.”



Melayang ragamu kini
Puan;
Kisah anak manusia dengan jiwa jiwa penuh cinta

Walau terbaring kini jasadmu
Di antah berantah
Kasihmu kekal
Ada dimana mana
Ada direlung kalbu
Ada di tenggorokan
Ada di hela hela napas gundah gulana hari hariku
Bersamamu hidupku luar biasa

Kau abadi; tak kemana mana
Kau tak mungkin ke tempat lain


Komentar

Postingan Populer